Rudy Taran (Rudy Tjong), Komandan Wing 300 TNI AURI yang Terakhir

Rudi Taran (Rudy Tjong), Dan Wing 300 Buru Sergap Kohanudnas Terakhir

Siapa yang tidak bangga, menjadi penerbang yang menggenggam rating di banyak kokpit pesawat tempur tercanggih di jamannya.   Dan terlebih lagi adalah menjadi komandan Wing 300 Kohanudnas, sebuah organisasi yang membawahi kekuatan inti, baik TNI Angkatan Udara maupun Kohanudnas.

Kalau mau bertanya siapa orangnya, dialah Rudi Taran.  Yang saat kecil bernama Rudi Tjong.   Saat masih muda ia adalah seorang penerbang MiG-21 Fishbed, setelah menjadi Komandan Wing 300 Kohanudnas, ia berhasil bernostalgia lagi dan menerbangkan solo pesawat F-5 Tiger II dan A-4 Skyhawk.

Tidak ada bayangan sedikitpun dalam benak Rudi kecil untuk menjadi penerbang tempur.  Namun, tak ada juga yang mustahil bagi orang yang yakin akan kuasa Tuhan.  Lahir di Piru, tanggal 6 Juni 1937, Rudi kecil menghabiskan masa kecilnya di Pulau Seram, sampai keluarganya pindah ke Ambon setelah lulus dari SMP. Rudi sebenarnya sempat masuk di STM. Namun karena tidak betah, baru 2 minggu di sekolah tersebut, Rudi pindah ke SMA yang lebih menarik perhatiannya. Tahun 1958 adalah tahun paling berkesan bagi dirinya yang saat itu sudah kelas II di SMA. Sebuah saat yang nantinya merubah jalan hidupnya menjadi penerbang tempur.  Pada masa itu, Ambon sedang dilanda banyak kerusuhan akibat pemberontakan PERMESTA.  AURI kemudian mengirimkan pesawat-pesawat P-51 Mustang untuk ikut dalam operasi penumpasan pemberontakan tersebut.  Saat pesawat-pesawat tersebut mendarat di Kota Ambon, maka beramai-ramailah orang menonton pesawat tersebut. “Wah, huebat bisa terbang” begitu kira-kira komentar Rudi muda yang saat itu ikut berdesak-desakan menonton.  Sejak saat itu, tekadnya bulat untuk menjadi penerbang tempur.

Setelah lulus SMA pada tahun 1959, Rudi dengan 4 orang temannya berangkat ke Jawa dengan kapal, bermaksud mengikuti ujian masuk Sekolah Penerbang AURI.  Pada tanggal 4 Januari 1960, para pendaftar pun dikumpulkan di Jalan Budi kemuliaan no.11, yang waktu itu berdiri RS Kebidanan.  Dari lima orang tersebut, hanya Rudi yang lolos seleksi penerbang. Satu orang lulus ke sekolah navigator, dan yang lain gagal.

Rudi dengan calon siswa penerbang lainnya yang berjumlah 75 orang, dikirim ke Margahayu untuk mendapatkan pendidikan dasar kemiliteran selama 10 bulan.  Selesai latihan tersebut, mereka dikirim ke Yogyakarta. Disana, mereka langsung dibagi menjadi 2 kelompok.  55 siswa termasuk Rudi, masuk kedalam Angkatan Cakra III yang akan belajar di Cekoslovakia, dan 20 siswa lainnya akan masuk Sekolah Penerbang AURI di Maguwo.

Para siswa Cakra III ini pada awalnya dididik di kota Trencin.  Mereka menggunakan pesawat Z-126 untuk tingkat mula, dan Yak-11 untuk tingkat dasar.  Untuk tingkat lanjut, mereka harus pindah ke Kota Pzerov dengan pesawat Mig-15 UTI.  Karena kebutuhan Operasi Trikora, maka penerbang yang cepat menguasai pelajaran, lebih cepat pulang ke Indonesia. Mereka adalah Firman Tirtokusumo, Zainudin Zikado, JJ Usmani, M. Syafii, Beni Yoseph, Isbandi Gondosuwignyo, Dibyo Purwodirodjo, Basri Hamid, Jan Ratulangi, Tasrikin, Immanuel Sudarmadi, Wofkar Usmani, dan Rudi Taran.

Pada bulan Januari 1963, mereka sudah kembali ke Indonesia, dan melaksanakan pendidikan transisi di pesawat Mig-17. Karena mereka dianggap siswa yang pintar, saat transisi pun para instruktur menggunakan cara yang tegas. 4 orang gagal dalam masa transisi. Basri hamid gugur pada saat latihan terbang malam.  Immanuel, Tasrikin, dan Ratulangi gagal.  Rudi ditempatkan di Skadron 12, Mig-21 Kemayoran dan memulai karirnya sebagai penerbang tempur.

Pesawat Mig-21 memang berusia pendek di Indonesia.  Para penerbang kita pun bahkan belum pernah kontak senjata menggunakan pesawat tersebut.  Tapi bagi Rudi, pengalamannya saat Operasi Dwikora dan masa-masa kejayaan pesawat Mig, adalah saat yang indah dalam karirnya sebagai penerbang tempur. Dalam Operasi Dwikora, Mig-21F di stand by kan di Medan.   Marsma TNI (Pur) Rudi Taran menuturkan pengalamannya saat mengikuti Operasi tersebut, “…Kenangan menarik adalah ketika ditugasi menguji Hanud Malaysia di Butterworth-Pangkalan Pembom Tempur milik Inggris.   Seorang diri, tahun 1964, yakni ketika hubungan Indonesia-Malaysia tegang.   Dari Medan saya take off setengah enam sore dan heading saya arahkan lurus ke Butterworth.   Persenjataan penuh.   Selain canon, saya juga dibekali rudal K-13.   Ternyata kesiapan pesawat mereka memang hebat.   Setelah kira-kira 10 menit, tower memberi tahu 4 pesawat naik dari Butterworth.   Boleh jadi Hawker Hunter.   Saya sudah kenal perilakunya karena sering papasan di atas Selat Malaka, termasuk dengan pembom Vulcan.   Arah tidak saya ubah, begitu pula mereka.   Kami siap duel.   Tetapi, begitu sampai perbatasan, namanya juga menguji, saya pun berbelok ke utara lalu menyusur Selat Malaka.   Kami pun berpisah.   Sebenarnya kita diperkenankan  menembak, asalkan saja yakin pesawat-pesawat itu jatuh di wilayah kita.”

Masih sehat dalam ingatannya, pada saat Rudi memutuskan untuk menikah, sedangkan uang tabungannya pun sudah habis dibelikan radio kecil. Akhirnya, Rudi pun menikah di gereja, tanpa ada keluarga yang datang, sebagai wali dan sekaligus tamu adalah teman-teman seangkatannya di cakra III.(Ini dia Fighter sejati !)

Setelah era Mig-21 selesai, Rudi banyak menghabiskan waktunya di Iswahjudi. Pada saat negara kita menerima pesawat T-33 dari Amerika, maka Rudi ikut berangkat ke sana bersama penerbang Skadron 11 lainnya.  Kelak beliau kemudian menjabat Komandan Wing 300 KOHANUDNAS, yang bermarkas di Madiun. Pada saat inilah, Kolonel PNB Rudi Taran ikut membesarkan Skadron Udara 14, yang notabene berada dibawah jajarannya. Pada saat Wing 300 dibubarkan, Pak Rudi masih menjabat sebagai Komandan. Sehingga, beliaulah The Last Emperor di Wing 300 yang dulu terkenal sebagai sarangnya penerbang tempur TNI AU.  Pada penghujung karirnya di TNI AU, Marsekal Pertama TNI Rudi Taran menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Elektronika TNI AU.  Beliau sekarang sudah pensiun, dan tinggal di Jakarta. He is still real fighter, every breath he take, every step he take ! Look at his big picture with his famous Fishbed.

Rudi Taran, Dan Wing 300 Buru Sergap Kohanudnas Terakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *