Cerita Ustadz Emha: Dipaksa Ceramah untuk Memilih Anies Baswedan

Satu jadual tabligh akbar dibatalkan

Tertulis di undangan tema kegiatan menyambut ramadhan, tetapi panitia menyatakan, “ini event sekaligus menyambut pelaksanaan pilkada ust. Jadi kami berharap ceramah nanti mengarahkan jamaah agar memilih pemimpin muslim.”

Aku menjawab ringan, “Oh kalau gitu langsung undang mas anies aja, kampanye tak usah malu2, biar langsung sampai pesannya.”

Panitia tidak terima, “justru ust yg harus sampaikan, bukankah ust penyambung pesan Allah?.”

Aku menjawab lagi, “Apakah semua jamaah pendukung Anies?”

Panitia menjawab, “tidak semua, justru melalui event ini kita serangan terakhir agar kaum muslimin sadar bahwa memilih pemimpin non muslim itu haram.”

Aku menyampaikan saran dan bertanya balik, “Oh kalau begitu silahkan cari penceramah yg lain, saya akan tetap menyampaikan sesuai tema, bukankah mempersiapkan jiwa menjelang ramadhan itu sangat penting?.”

Panitia menjawab, “ya memang penting ust tapi kalau sampai Jakarta dipimpin non Muslim, habislah kita. Jelas2 Cina Kristen punya agenda terang2an menghancurkan umat.”

Aku bertanya lagi, “satu periode ini Jakarta dipimpin oleh Pak Ahok, apakah masjid kita habis? Apakah uang kita di BAZIS habis? Apakah sholat jamaah kita semakin habis? Apakah ada larangan2 dari Pemda yg menghabisi umat? Kebijakan Pemda yg mana yang menghancurkan umat?”.

“Cukup… cukup ust… nanti kita bicarakan lagi dengan panitia yg lain.” Panitia menyela semua pertanyaanku yg belum selesai.

“Okay, saya tunggu konfirmasi terakhirnya.” Jawabku menutup silaturahim yang menegang tiga hari silam.

Dan tadi malam, sebuah sms terkirim ke stafku yg menangani jadual kegiatanku, ceramahku dibatalkan karena tidak ada kesepakatan. Padahal aku sangat sepakat dengan tema kegiatan menyambut bulan ramadhan, aku hanya tidak sepakat terhadap politisasi masjid atau musholla, atau politisasi panggung tabligh akbar dengan menyerukan topik kemuliaan ramadhan tetapi menyuguhkan ujaran kebencian kepada saudara sebangsa.

Begitulah saudara-saudara, fakta yang terjadi di lapangan, begitu sulit menerima perbedaan, seribu jamaah yang hadir boleh jadi menyimpan harapan perbaikan hati setelah sangat lelah membaca lalu lintas berita pilkada yang melukai ukhuwwah di antara kita. Mengapa panitia tabligh akbar tidak belajar dari Panitia Istighotsah Kubro kaum Nahdhiyyin di Sidoarjo kemarin. Lautan massa berkumpul tanpa caci maki, tanpa ujaran kebencian, tanpa perasaan gelisah dan curiga, semua tenang berdzikir, munajat kepada Allah untuk kedamaian bangsa. Mengapa justru event berkumpul umat dijadikan ajang memaksakan kehendak? Mengapa?

Aku kembali membaca SMS yg terkirim tadi malam, mencoba memahami kalimat yg tertulis, “kami dan ust tidak ada kesepakatan”, kesepakatan apa? Aku berulang menyebut akan menyampaikan spirit ramadhan untuk meningkatkan ukhuwwah umat, mengapa suara persaudaraan dianggap tidak sepakat? Apakah ukhuwwah antar umat berarti harus satu suara dalam pilkada?

Enha Baru
Tembusan; kepada semua jamaahku di wilayah Pisangan Timur, maafkan ketidakhadiranku nanti bila sudah kadung foto dan namaku terpampang di baliho untuk event Jum’at lusa. Panitia tak menghendaki kedatanganku. Semoga semua kita senantiasa dirahmati Allah. Pesanku, “mari siapkan diri menghadapi ramadhan mubarak dengan meneguhkan kembali komitmen persaudaraan di bumi nusantara yang kita cintai ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *