Konteks Kesadaran dalam Sadar tiap saat.

Dari Pengalaman menjadi mentor meditasi atau sharing Dharma, saya memahami tak mudah menerangkan makna sadar (aware/mindfull) dalam hidup ‘sadar’ dalam pemahaman umum atau dalam Bahasa Indonesia.

Dalam Bahasa Indonesia, Sadar sering diartikan tidak pingsan atau belum mati. Dengan kata lain, kalau tidak pingsan atau mati, pasti orang itu dikatakan sadar. Kalau sadar berarti tidak pingsan atau tidak mati.

Tapi pengalaman beberapa hari lalu saat dialog dengan atasan saya, memberi saya clue menerangkan yang dimaksud berusaha ‘sadar’ setiap saat.

Atasan saya, bila santai sering berdialog menanyakan sesuatu tentang latihan kesadaran.

Hari itu ia bertanya tentang teknik latihan, atau bagaimana ia bisa berlatih sementara rutinitas harian yang ada begitu padat, juga seringkali harus berurusan dengan orang-orang yang memiliki emosi negatif, membuat kita terbawa juga.

“Latihannya yah, be present.” Kataku meneruskan untuk menjelaskan sifat pikiran yang selalu bergerak.

Dalam beberapa tradisi pikiran digambarkan sebagai ‘monyet’ yang liar, ‘harimau’ yang belum jinak, atau ‘ternak’ berkeliaran yang kehilangan gembalanya, ke sana atau ke sini tanpa arah.

“Untuk melatih ‘monyet’, ‘harimau’ atau ‘domba’ dalam tanda kutif ini, kita membutuhkan tubuh jasmani sebagai alat.” Kataku sambil menggenggam kuat ujung meja bos yang terbuat dari kayu.

“Kayu ini keras, ada tonjolan atau tidak, panas atau dingin saya merasakan itu, saya bisa memperkuat kesadaran saya dengan berpusat pada sentuhan itu. Di beberapa tempat master meditasi bersejarah, bisa ditemukan bekas tapak kaki, bekas lutut bersujud di batu atau kayu yang secara materi sangat keras, itu tidak lain karena kekuatan konsentrasi pemusatan kesadaran dari master tersebut dalam waktu lama dan terus-menerus mampu melunakkan materi keras tersebut.”

Atasan saya hanya mengangguk, entah ia mengerti atau tidak. Nasi padang pesanan saya sudah datang. Aku mengisi botol minum saya dari dispenser, duduk di kursi, lalu ke toilet. Keluar dari toilet saya makan nasi padang saya. Selesai makan saya merasa haus, botol minum yang tadi saya isi entah dimana. Hmm, aku cuci tangan di belakang. Saat cuci tangan, saya menemukan ide menerangkan arti ‘sadar’ yang dimaksud dalam hidup sadar.

“Cik, yang dimaksud sadar dalam hidup berkesadaran kira-kira seperti ini. Ncik tadi lihat saya minum dari botol kan?”

Ia mengangguk

“Saya masih ingat waktu mengisi botol itu dari dispenser. Tapi sekarang saya lupa habis minum saya taro dimana. Padahal saya belum kemana-mana, masih dalam ruangan ini, toilet dan dapur. Nah, sepanjang bicara dengan ncik tadi, saya tidak pingsan kan?”

“Tidak.”

“Saya juga tidak tidur atau mati kan?”

“Tidak,” katanya tersenyum.

“Nah, moment dimana saya meletakkan botol minum itu adalah moment dimana saya dikatakan tidak sadar, tidak mindfull, Cik. “

“Oh begitu, “ katanya mafum.

“Padahal dari tadi saya tidak sedang pingsan atau tidur, tapi sekarang saya tidak tahu botol minum itu ada dimana”

Aku bergerak ke kursi dimana aku duduk tadi, melihat di lantai di samping kursi itu. Aha! Ada botol minum saya bersembunyi di situ. Saya mengambil dan meminumnya.

“Jadi sepanjang kita di sini tadi ada banyak siklus, siklus dimana saya meletakkan botol adalah siklus saya tidak sadar (mindfull). Jadi saya tidak tahu botol minum saya ada dimana. Tapi saya masih sadar (mindfull ) saat duduk di kursi itu, sehingga secara konstruktif menduga saya meletakkan botol di samping kursi itu.”

Bandar Kemayoran, 31 Agustus 2017

Harpin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *